MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BELAJAR



Manusia adalah makhluk pembelajar pada dasarnya, karena belajar merupakan salah satu bentuk perilaku yang amat penting bagi kelangsungan hidup manusia. manusia harus merespons alam sebagai bentuk proses belajar. Semua yang kemu-dian dimiliki oleh manusia: pengetahuan, keterampilan, sikap, maupun bentuk-bentuk keinginan yang menyertai keberadaan manusia, adalah hasil belajar tentang diri dan dari lingkungannya. Manusia bisa berubah menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Bahkan, selanjutnya mereka larut dengan lingkungannya. Nabi mengingatkan ummat dengan haditsnya: “Semua yang lahir berada dalam kondisi fitrah, orangtuanyalah yang meyahudikan, menasranikan, ataupun memajusikannya”.
yang membedakan manusia dengan makhluk lain seperti binatang misalnya. Karena aktivitas belajarlah yang mengantarkan seorang manusia menjadi berilmu, yang selanjutnya menempatkan manusia menjadi makhluk yang paling mulia diantara makhluk yang Allah ciptakan. Karena belajarlah, manusia bisa bertahan hidup dan bisa memenuhi apa yang menjadi kebutuhan hidupnya. Karena belajarlah, manusia bisa memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi. Karena belajarlah, manusia bisa mengembangkan budayanya, dan karena belajar pula, manusia bisa menguasai alam dan bisa mengubah wajah dunia ini.
Dilihat dari ciptaan Allah selain manusia ada hewan, namun yang membedakan manusia dengan hewan adalah bahwa hewan hanya mengandalkan intingnya untuk memenuhi kehidupannya dan mempertahankan kehidupannya sehingga kehidupan nya tidak dapat berkembang untuk memperbaiki derajat kehidupannya.
Mamalia umumnya memiliki otak yang lebih besar dibandingkan dengan vertebrata yang lain dengan ukuran tubuh yang sama, dan banyak spesiesnya mampu belajar. Mamalia juga memiliki durasi pengasuhan anak yang relatif lama dikarenakan untuk memperpanjang waktu bagi si anak untuk mempelajari kemampuan dan keterampilan penting untuk kelangsungan hidupnya --proses meniru orang tuanya”. Proses peniruan itulah yang menjadi sarana pembelajaran penting bagi anak manusia. Peran ibu dan orang dewasa lain yang ada di sekeliling anak, seperti disebutkan dalam hadits yang dibahas di muka, akan menjadi pemberi warna khusus kepada kondisi perilaku dan pikiran manusia-manusia yang baru menjalani kehidupan. Selanjutnya, warna itu akan terus berpengaruh, menjadi kumpulan nilai dan pengalaman bagi kehidupan manusia-manusia baru. Proses pembelajaran awal itu terus berlangsung sejalan dengan proses berperilaku yang diajarkan oleh para orang dewasa yang memengaruhinya.
Namun tidak lah jarang manusia yang memiliki ilmu banyak justru yang merusak alam, karena keserakahan manusia yang merasa bahwa sudah memiliki banyak ilmu lalu berfikir bahwa bumi dapat dilakukan dengan sesuka hati tanpa memikirkan dampak apa yang ditimbulkan.
Dalam Islam manusia dipandang sebagai manusia, bukan sebagai binatang, karena manusia memiliki derajat yang tinggi, bertanggung jawab atas segala yang diperbuat, serta makhluk pemikul amanah yang berat. Berikut pemahaman para pemikir Islam tentang manusia;
  1. Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd menyatakan bahwa hakekat manusia itu terdiri dari dua komponen penting, yaitu;
a)      Komponen jasad. Menurut Farabi, komponen ini berasal dari alam ciptaan yang mempunyai bentuk, rupa, berkualitas, berkadar, bergerak dan diam, serta berjasad dan terdiri atas organ. Al-Ghazali memberikan sifat jasad manusia yang ada dalam bumi ini yaiu, dapat bergerak, memiliki rasa, berwatak gelap dan kasar, dan ini tidak berbeda dengan benda-benda lain, sedangkan Ibnu Rusyd berpendapat bahwa komponen jasad merupakan komponen materi. (Ahmad Daudy, 1989:58-59) b)      Komponen jiwa. Menurut farabi, komponen jiwa berasal dari alam perintah (alam kholiq) yang mempunyai sifat berbeda dengan jasad manusia. Hal ini karena jiwa merupakan roh dari perintah Tuhan walaupun tidak menyamai Dzat-Nya. Menurut al-Ghazali, jiwa ini dapat berfikir, mengingat, mengetahui, dan sebagainya, sedangkan unsur jiwa merupakan unsur rohani sebagai penggerak jasad untuk melakukan kerjanya yang termasuk alam ghaib. Bagi Ibnu Rusyd jiwa adalah sebagai kesempurnaan awal bagi jasad alami yang organik (Ahmad Daudy, 1989; 59)
  1. Ibnu Miskawih, menambahkan satu unsur lagi disamping unsur jasad dan jiwa, yaiu unsur hayah (unsur hidup). Hal ini karena pada diri manusia ketika dalam bentuk embrio (perpaduan antara ovum dan sperma) sudah terdapat kehidupan walaupun roh belum ditiupkan, sedangkan hayah sendiri terdapat pada sperma dan ovum yang membuat embrio hidup dan berkembang. Jadi hayah bukan komponen jasmanai yang berasal dari tanah dan bukan pula komponen jiwa atau rohani yang ditiupkan oleh Allah.(Syahminan Zaini, 1984:23)
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa manusia pada dasarnya dapat ditempatkan dalam tiga kategori, yaitu;
  1. Manusia sebagai makhluk biologis (al-Basyar) pada hakekatnya tidak berbeda dengan makhluk-makhluk biotik lainnya walaupun struktur organnya berbeda, karena struktur organ manusia lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain.
  2. Manusia sebagai makhluk psikis (al-insan) mempunyai potensi rohani seperti fitrah, qolb, ‘aqal. Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang tertinggi martabatnya, yang berbeda dengan makhluk lainnya, artinya apabila potensi psikis tersebut tidak digunakan, manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan lebih hina.
  3. Manusia sebagai mahluk sosial mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial terhadap alam semesta, ini disebabkan karena manusia tidak hanya sebagai Abdullah tetapi juga sebagai khalifatullah untuk mewujudkan kemakmuran, kebahagiaan dalam kehidupan dunia dan akherat.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIMBANGAN GANTUNG

TAMAN NASIONAL BALI BARAT

REVIEW HOTEL BALI HANDARA BEDUGUL