MANUSIA SEBAGAI MAHLUK OTONOMI
Istilah otonomi sering dikaitkan dengan urusan pemerintahan. Pemerintahan daerah yang memiliki hak otonom bisa mengatur urusan dirinya sendiri tanpa banyak bergantung kepada pemerintah pusat. Pengertian otonom ini dapat dikaitkan dengan keberadaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Manusia memiliki hak menentukan pilihan dengan diikat oleh kewajiban beribadah kepada Allah SWT dengan mengikuti segala peraturan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Allah dengan sifat RahmanNya menyediakan nikmat hidup kepada semua mahlukNya tanpa kecuali. Semua mahluk Allah dianugerahi nikmat hidup tanpa kecuali. Manusia, jin, malaikat, binatang, maupun tumbuhan, diberi kesempatan menikmati kehidupan secara merata oleh Allah. Allah tidak pernah akan membedakan mahluk mana yang menuruti aturanNya atau yang mengingkari aturanNya, semua mendapatkan kasih sayang Allah. Dalam kaitan dengan nikmat hidup, semua mahluk Allah swt telah dijamin rezekinya baeserta fasilitas hidup yang lengkap. Tak ada mahluk hidup yang harus membayar kenikmatan asali udara, kenimkatan air, kenikmatan tempat tinggal, semua telah disediakan sebagai bagian dari kelengkapan jaminan hidup dari Allah swt. Tetapi, kemudian manusia tidak bisa menyukuri semua nikmat tersebut. Banyak fasilitas kehidupan (nikmat hidup) yang telah dikuasai secara semena-mena oleh sekelompok manusia tertentu. Satu kebutuhan mendasar bagi kehidupan yaitu air, banyak yang telah dikangkangi oleh kelompok pamilik dana besar.
Nikmat Allah yang kedua hanya dianugerahkan kepada jenis mahluk tertentu, yaitu manusia. Allah memberi akal sebagai alat pengendalian diri, alat pengembangan diri, atau alat berpikir yang bisa digunakan untuk mengubah diri, menentukan pilihan. manusia yang diberi nikmat akal. Oleh karena itu, manusia diserahi tugas mengelola Bumi, sebagai khalifah fil-Ardh. Dengan akalnya, manusia bisa mengelola Dunia, berbudaya. Tanpa iman, memang, ketinggian derajat itu baru sebatas posisi duniawi. Allah secara lengkap menjanjikan akan meninggikan derajat orang yang beriman sekaligus berilmu (karena bisa memanfaatkan kemampuan akal) beberapa derajat di antara mahluk lainnya.
Allah menganugerahkan nikmat hidayah hanya bagi manusia tertentu (terpilih) saja. Sejalan dengan posisi manusia sebagai mahluk otonom, yang telah diberi kebebasan untuk memilih kecenderungan fujur atau taqwa, maka tidak semua manusia mengambil pilihan yang sama. Ada yang memilih fujur, ada juga yang cenderung kepada taqwa. Padahal, hidayah, yang selama ini diartikan sebagai “sesuatu yang selalu harus dicari”, telah tersedia berbentuk Al-Quran yang sempurna sebagai kumpulan hidayah Allah.
Dua nikmat Allah yang kerap terlupakan oleh manusia
Ketika sedang sehat, seseorang merasa tenteram, tenang, bahkan merasa tidak memiliki masalah besar. Dalam kondisi sehat seseorang kerap merasa bahwa sehat itu bagian tak terpisahkan dari hak hidup sehari-hari. Kemudian, banyak orang yang lupa menyertakan keberadaan Allah swt dalam segala isi kehidupannya. Nikmat sehat pada dasarnya adalah anugerah Allah swt. Di samping nikmat kesehatan, ada nikmat lainnya yang kerap terlupakan oleh manusia, yaitu kenikmatan memiliki waktu senggang. Setiap orang rata-rata diberi waktu senggang yang banyak oleh Allah swt. Allah swt menuntut manusia untuk beribadat mahdhah dengan waktu yang sangat sedikit. Manusia cukup leluasa untuk memanfaatkan waktunya dalam banyak kegiatan di luar ibadat mahdhah. Nikmat yang mana lagi yang akan kita dustakan?
Pada satu sisi, manusia adalah mahluk individu. Masing-masing manusia tegak sebagai mahluk yang unik. Sekalipun ada dua orang kembar siam, kesamaan-kesamaan yang dimiliki oleh manusia kembar tersebut tidak pernah betul-betul persis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIMBANGAN GANTUNG

TAMAN NASIONAL BALI BARAT

REVIEW HOTEL BALI HANDARA BEDUGUL