POLA HUBUNGAN VERTIKAL ANTARA MAKLUK DENGAN PENCIPTA
Setiap individu memiliki kewajiban dan hak masing-masing langsung
dengan Allah. Setiap manusia berhubungan langsung dengan Khaliknya tanpa perlu
perantara. Hubungan manusia (makhluk) dengan Allah (Khalik) adalah hubungan
vertikal langsung tak memerlukan perantara. Setiap orang, tidak dibatasi ruang
dan waktu, bisa “menghadap” Allah. Untuk menghubungi Allah secara langsung,
Dinul Islam telah menetapkan bentuk hubungan tanpa-penghalang dengan Allah swt
dalam bentuk doa. Shalat adalah salah satu perilaku berdoa kepada Allah sebagai
salah satu bagian ibadat mahdhah. Berdo’a dalam bentuk yang lain adalah memohon
langsung kepada Allah dengan ucapan permohonan (dicontohkan oleh Nabi) atau pun
ucapan lain sesuai dengan bahasa dan kebutuhan manusia.
Kehidupan umat muslim harus dipenuhi oleh doa-doa. Sejalan dengan
pernyataan hadits Nabi bahwa “addu’aa mukhkhul ibadat”, doa itu adalah
saripatinya ibadat. Pada kenyataannya segala sisi kehidupan umat muslim tidak
akan pernah lepas dari dzikir kepada Allah, mengingat Allah, melalui doa pada
setiap awal pekerjaan. Tak ada yang kosong dari doa, semua jenis pekerjaan baik
dicontohkan oleh Nabi saw lengkap dengan doanya. Tak ada alasan, hubungan
vertikal makhluk-Khalik terhalang oleh waktu, kesibukan, dan sejenisnya.
Siapapun manusia muslim, tanpa dibatasi profesi, status sosial, ruang, maupun
waktu, bisa berhubungan langsung dengan Khaliknya unlimited. Semua kesempatan
berisi tuntunan dzikir, yang bisa mengantar manusia selalu menyadari adanya
Yang Mahaada, yang selalu mengawasi, selalu memelihara, selalu online, dan
menjadi tujuan semua permohonan serta pengaduan. Tidak ada tempat yang penting
sebagai shelter jedanya semua usaha, kecuali mengingat Allah swt melalui doa
dan doa.
a.
Ibadat Ghair Mahdhah (Pola
Hubungan Horizontal Antarmanusia)
Hukum
dasar semua ibadat ghair mahdhah telah diatur dalam Al-Quran. Rasul tidak mengatur penyeragaman cara tampilan urusan
keduaniwian. Berpakaian, dalam konsep dasar Islam, adalah menutup aurat.
Bentuk, ragam, gaya, dan tampilan, bisa disesuaikan dengan kebutuhan, selama
konsep dasar tidak diubah.
Konsep Islam adalah konsep yang
mengacu keseduniaan murni, karena diatur oleh yang Mahapengatur, Tuhan pencipta
seluruh isi alam. Sifat Rahman dan Rahim Allah telah tetap berlaku untuk semua
manusia sesuai dengan keseimbangan porsinya. Sunnatullah adalah bentuk
keseduniaan murni yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai bentuk pengikat
kondisi dasar kehidupan. Manusia-manusia muslim pada dasarnya bisa secara terus
menerus mengumpulkan perbekalan untuk menunju Kampung Akhirat melalui
ibadat-ibadat ghair mahdhah. Yang mesti diingat, ketika seseorang mengerjakan
ibadat mahdhah, berarti seseorang melaksanakan “kewajiban asasi” seorang hamba
Allah. Jika kewajiban asasi itu tertunaikan, lepaslah tuntutan pelaksanaan
kewajiban dasar sebagai manusia. Tetapi, tentu, masih belum memiliki “bekal
lebih” untuk melengkapi tunainya kewajiban dasar itu. Bagaimanakah perhitungan
amal kewajiban dasar itu jika tidak tunai secara sempurna? Nabiyullah Muhammad
saw mengajari umat muslim, pekerjaan-pekerjaan sunnat, ibadat ghair mahdhah
yang dilengkapi dengan niat baik (minimal membaca basmalah) hasilnya tidak akan
terputus, ‘nyambung’ dengan apa yang diperintahkan oleh Allah, dan menjadi
penyempurna ibadat mahdhah yang ‘bolong-bolong’, yang pelaksanaannya kurang
sempurna. Ibadat sunnat adalah ‘lapisan email’ yang akan melindungi dan
menyempurnakan bangunan ibadat mahdhah yang telah dilakukan, terutama yang
kurang sempurna!
Komentar
Posting Komentar